<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title> Gudangnya kaos kreatif</title>
	<atom:link href="http://serbakaos.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://serbakaos.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Wed, 21 Apr 2010 13:10:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='serbakaos.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title> Gudangnya kaos kreatif</title>
		<link>http://serbakaos.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://serbakaos.wordpress.com/osd.xml" title=" Gudangnya kaos kreatif" />
	<atom:link rel='hub' href='http://serbakaos.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Sisi lain ibu kota Priangan</title>
		<link>http://serbakaos.wordpress.com/2010/04/18/sisi-lain-ibu-kota-priangan/</link>
		<comments>http://serbakaos.wordpress.com/2010/04/18/sisi-lain-ibu-kota-priangan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Apr 2010 13:22:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>serbakaos</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://serbakaos.wordpress.com/?p=34</guid>
		<description><![CDATA[BANDUNG bukan saja ibu kota Priangan, tetapi juga ibu kota per-kaos-an. Di ibu kota Provinsi Jawa Barat ini, kaos oblong alias T-shirt telah menjadi industri rakyat. Kaos menjadi penghidupan ribuan orang yang terlibat dalam proses pembuatannya. Mari kita tengok kawasan Suci, sentra industri kaos di seputar Jalan Surapati, Cicaheum, Bandung. Di kawasan ini ada tak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serbakaos.wordpress.com&amp;blog=13150495&amp;post=34&amp;subd=serbakaos&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>BANDUNG bukan saja ibu kota Priangan, tetapi juga ibu kota per-kaos-an.  Di ibu kota Provinsi Jawa Barat ini, kaos oblong alias T-shirt telah  menjadi industri rakyat. Kaos menjadi penghidupan ribuan orang yang  terlibat dalam proses pembuatannya.</p>
<p>Mari kita tengok kawasan  Suci, sentra industri kaos di seputar Jalan Surapati, Cicaheum, Bandung.  Di kawasan ini ada tak kurang dari 300 produsen kaos. Musim pemilihan  kepala daerah alias pilkada—terlebih pemilu—merupakan masa panen bagi  pelaku usaha kaos di Suci beserta ribuan karyawan mereka.</p>
<p>”Untuk  kaos pilkada gubernur di Bandung kemarin saja, pesanan mencapai delapan  juta potong. Jumlah itu menyebar, dikerjakan oleh banyak pabrik,” kata  Marius Widyarto Wiwied, pengusaha kaos ”cap” C59.</p>
<p>Tahun 2008 ini  memang menjadi masa panen besar. Pasalnya, di negeri yang sedang dimabuk  demokrasi ini, pada kurun 2008 terjadi 40 pilkada, mulai pemilihan  bupati, wali kota, dan gubernur. Dan jangan lupa, calon anggota  legislatif alias caleg DPR dan DPRD juga ikut pesan kaos yang tentu saja  bergambar diri sendiri sedang memakai jas berdasi. Pesanan itu datang  dari berbagai penjuru seperti Kalimantan Timur, Lampung, Palembang,  Bali, sampai Mimika.</p>
<p>Setiap pilkada, datang pesanan antara 15.000  sampai 500.000 potong kaos. Setidaknya itu menurut catatan Marnawie  Munamah, Ketua Umum Koperasi Pengrajin Sentra Kaos Suci. ”Nomor (urut)  belum turun saja sudah banyak yang memesan. Apalagi, setelah penentuan  nomor urut calon, pesanan bisa dua kali lipat,” kata Marnawie.</p>
<p>Mengapa  para pemesan memilih Bandung? Menurut Wawan Gunawan, pengusaha kaos  dari konfeksi Planet Production, sentra kaos Bandung bekerja dengan  semangat pasukan gerak cepat. Industri milik Wawan yang didukung 125  karyawan, misalnya, mampu melayani 25.000 kaos dalam sehari.</p>
<p>Wawan  mulai berbisnis kaos sejak tahun 1998. Kini, sudah punya empat pabrik,  dengan produksi rata-rata 500.000 potong kaos per bulan. Kaos itu  umumnya diproduksi untuk memenuhi pesanan dari berbagai perusahaan,  seperti perusahaan rokok, operator telepon seluler, atau perbankan.  Sejak tahun 2004, dia banyak menerima order kaos untuk pilkada.</p>
<p>Menurut  Wawan, pesanan untuk pilkada lumayan besar jumlahnya, mencapai sekitar  300.000 potong per bulan. Kaos itu biasanya dibuat dari bahan hyget yang  murah dengan harga jual Rp 5.000 per potong. Satu partai atau calon  kepala daerah biasa mesan sekitar 5.000 potong per satu desain.  Keuntungan yang dikantongi hanya sekitar lima persen. ”Tak besar  untungnya, tapi kalau pesanan banyak dan terus, itu bisa menghidupi  produksi,” kata Wawan.</p>
<p>Dalam musim ramai pesanan itu, Wawan dan  kawan-kawan mesti waspada. Pada tahun 2004, banyak rekan usahanya  merugi, bahkan sampai gulung tikar, karena pesanan kaos tidak dibayar.  Aris, seorang pengusaha kaos, merugi Rp 85 juta karena ada beberapa  parpol yang tidak menebus pesanan kaos. Woah!</p>
<p>Penghidupan mandiri</p>
<p>Industri  kaos di Bandung tumbuh sejak tahun 1980-an. Pada awal era itu, usaha  kaos dikerjakan beberapa produsen saja, seperti C59, Christine  Collection, dan Q. ”Saya masih memproduksi sekitar 60.000 potong pe  bulan untuk kaos pesanan dan 50.000 potong untuk ritel,” kata Widyarto  Wiwied, pendiri C59 yang termasuk pelopor bisnis perkaosan Bandung.</p>
<p>Setelah  krisis moneter tahun 1997, kaos impor dari mancanegara semakin mahal.  Akhirnya banyak yang memproduksi sendiri untuk dijual di pasar dalam  negeri. Tahun 2000-an, tumbuh kaos yang diproduksi di rumahan untuk  dipasarkan di jaringan distro, seperti dengan merek 347, Ouval,  Airplane, Evile, dan Eat.</p>
<p>Industri kaos Suci tumbuh justru ketika  krisis ekonomi tengah melanda negeri ini tahun 1998. Orang-orang yang  kehilangan pekerjaan saat itu bertahan hidup dengan menyablon kaos dan  mendirikan warung kaos di sekitar Suci. Kaos rupanya memberi mereka  kehidupan sampai hari ini.</p>
<p>Salah satunya adalah Yayan Suryana  (38) yang telah tiga tahun ini hidup dari pembuatan kaos di Suci.  Mula-mula pria asal Majalaya, Kabupaten Bandung, ini kebagian peran  sebagai buruh perapih jahitan bahan kaos dengan bayaran Rp 200.000 per  minggu. Itu tiga tahun lalu. Dengan belajar dan dukungan dari majikan,  perlahan ia mengerti berbagai proses produksi kaos.</p>
<p>”Sekarang  saya naik pangkat jadi tukang obras. Nanti kalau sudah ada modal dan  keahliannya bertambah, saya ingin mandiri. Majikan saya sudah mengatakan  akan membantu bila anak buahnya ingin membuka usaha sendiri,” kata  Yana.</p>
<p>Beberapa pengusaha kaos Bandung menggunakan semangat  memandirikan karyawan. Farhad, Kepala Produksi Undersight, salah satu  produsen clothing di Bandung, mengatakan industri kaos tidak sekadar  melulu mengejar ekonomi. Proses mandiri membuat manusia menjadi lebih  produktif. Hal itu dibuktikan adanya keinginan pekerja untuk mandiri  mengembangkan usahanya.</p>
<p>Perry Tristianto, pengusaha sejumlah  factory outlet (FO) di Bandung, misalnya, mendorong karyawannya untuk  membuka usaha sendiri. Evita Farizca (33) adalah salah seorang karyawan  di usaha FO milik Perry yang kini mempunyai usaha clothing sendiri sejak  setahun lalu. Siang kerja di FO milik Perry, malam hari ia jalankan  usaha pembuatan kaos bermerek 789.</p>
<p>”Modalnya hanya pesanan kaos  dari teman. Saya membuat desain, membeli bahan, dan menjahitkan ke  konfeksi. Kemudian saya pinjam uang dari teman untuk beli mesin jahit  besar,” katanya.</p>
<p>Seluruh proses produksi—mulai dari membuat  desain kaos, membeli bahan, memotong, menjahit, menyablon, sampai  mengepak—dikerjakan sendiri. Usaha Evita berkembang. Kini dia bisa  membeli beberapa mesin jahit sendiri, alat sablon, printer besar, dan  printer untuk membuat film desain kaos. Karyawannya sekitar sembilan  orang.</p>
<p>Menurut Widyarto Wiwied, jumlah perajin kaos rumahan di  Bandung sekitar 800 orang. Adapun jumlah produsen kaos pabrikan di  Bandung sekitar 100 pabrik. Kelompok distro di Jalan Sultan  Agung-Trunojoyo sekitar 20-an toko distro. Itu belum termasuk di pelosok  lain Bandung seperti Jalan Riau, Sultan Agung, dan lainnya. Soal merek  yang banyak beredar dan dikenal di Bandung, mungkin jumlahnya mencapai  500 merek.</p>
<p>Rezeki kaos dari satu produsen itu menyiprat juga ke  para pendesain, penjahit, penyuci, sampai pengepak. Bahkan lebih jauh  lagi ke tukang es durian dan tukang jajanan yang dipastikan berjualan di  depan FO atau distro di Bandung.</p>
<p>Kaos terbukti menghidupi  rakyat—dan menjadi pakaian rakyat. Maka, jangan ganggu penghidupan  rakyat. (Cornelius Helmy/ Dwi Bayu Radius)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/serbakaos.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/serbakaos.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/serbakaos.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/serbakaos.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/serbakaos.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/serbakaos.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/serbakaos.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/serbakaos.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/serbakaos.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/serbakaos.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/serbakaos.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/serbakaos.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/serbakaos.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/serbakaos.wordpress.com/34/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serbakaos.wordpress.com&amp;blog=13150495&amp;post=34&amp;subd=serbakaos&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://serbakaos.wordpress.com/2010/04/18/sisi-lain-ibu-kota-priangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2a9e5ab3418086d279f62ced1fd4d5b2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">serbakaos</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ada apa dengan Kaos?</title>
		<link>http://serbakaos.wordpress.com/2010/04/15/ada-apa-dengan-kaos/</link>
		<comments>http://serbakaos.wordpress.com/2010/04/15/ada-apa-dengan-kaos/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Apr 2010 13:42:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>serbakaos</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Jenis Kaos]]></category>
		<category><![CDATA[Kaos]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Kaos]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Sebenarnya kaos / T-Shirt telah ada pada akhir abad ke-19, yang kemudian mendunia pada tahun 50an, namun gambaran kaos saat itu masih sangat sederhana, yang hanya berupa pakain polos yang berfungsi sebagai pelapis pakain luar, kemudian metode screenprint dikembangkan pada tahun 60an, di era inilah bentuk-bentuk kaos mulai mengalami masa-masa perkembangan yang signifikan. Sehingga saat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serbakaos.wordpress.com&amp;blog=13150495&amp;post=1&amp;subd=serbakaos&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebenarnya kaos / T-Shirt telah ada pada akhir abad ke-19, yang kemudian mendunia pada tahun 50an, namun gambaran kaos saat itu masih sangat sederhana, yang hanya berupa pakain polos yang berfungsi sebagai pelapis pakain luar, kemudian metode screenprint dikembangkan pada tahun 60an, di era inilah bentuk-bentuk kaos mulai mengalami masa-masa perkembangan yang signifikan. Sehingga saat ini seperti <em>tank top</em> , <em>muscle shirt</em> , <em>scoop n</em>eck , <em>v-neck </em><em>telah dapat kita temukan sampai sekarang..</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>Fashion, Kaos, dan Komunikasi</strong></p>
<p>Meski sudah mulai mendunia sejak “50-an, konvensi mode dunia tetap saja belum memasukkan kaos ke dalam kategori fashion . Kaos tetap saja dianggap sebagai pakaian dalam yang tidak pantas dikenakan sebagai pakaian luar. Memakai kaos masih juga dianggap sebagai tindakan yang <em>unfashion</em>. Karena itu pada masa musik heavy metal mulai digemari kalangan muda, mereka ini sengaja memilih seragam kaos oblong sebagai bentuk penolakan terhadap konvensi arus utama mode dunia (<em>high fashion</em>). Menyobek beberapa bagian dari kaos oblong bahkan merupakan bagian dari gaya subkultur punk. Bagi mereka ini bentuk fashion adalah <em>unfashion</em>.</p>
<p>Perubahan dalam bahan dan teknologi produksi kaos turut berperan dalam perubahan makna kaos dalam kehidupan sosial. Ditemukannya polyester dan bahan-bahan fiber artifisial, bersamaan dengan diperkenalkannya bahan drip-dry untuk pembuatan pakaian, penambahan variasi warna, gaya dan tekstur, membuat kaos semakin diterima sebagai pakaian luar. Meski begitu, dalam diferensiasi sistem fashion, hingga sekarang kaos masih digolongkan dalam kategori <em>low fashion</em> (=<em>unfashion</em>?).  Berbeda dengan produk high fashion yang didesain dan dibuat secara khusus untuk orang-orang khusus, hampir semua kaos merupakan <em>low fashion</em> yang didesain untuk tujuan diproduksi secara massal.</p>
<p>Variasi kaos sebagai pakaian luar sekarang ini sangat beragam. Kaos diproduksi baik dalam warna-warna primer maupun dalam kombinasi yang lebih kompleks, beberapa di antaranya dilengkapi dengan saku untuk menyimpan alat tulis, rokok, atau benda kecil lainnya. Dengan begitu kaos tidak hanya dipakai oleh kalangan muda, laki-laki, atau mereka yang berasal dari golongan bawah saja, tetapi juga dipakai oleh siapa saja. Kita juga melihat kaos dipakai dalam berbagai aktivitas, dari bekerja hingga mengisi waktu senggang, seperti jalan-jalan di pusat pertokoan atau bermain golf.</p>
<p>Kaos oblong sekarang ini juga telah menjadi wahana tanda. Kaos, sebagaimana pakaian lainnya, membawa pesan dalam sebuah “teks terbuka” di mana pembaca atau penonton bisa menginterpretasikannya.</p>
<p>Betapapun klaim atas identitas atau status dalam kaos oblong ini bersifat ambigu, dalam terminologi Umberto Eco (1979), representasinya selalu bersifat<em> undercoded</em> , ia berhubungan secara<em> synecdochical</em> (satu bagian dari kaos mewakili keseluruhan pribadi seseorang) dengan pengalaman, relasi sosial, nilai, atau status yang diklaim secara eksplisit atau implisit oleh pemakainya. Pesan yang disampaikan dalam kaos bukanlah sekedar tentang tempat, kelompok, atau bisnis, tetapi klaim atas status pemakainya. Seorang pemakai kaos oblong Dagadu misalnya, bukan sekedar menyampaikan pesan bahwa kaos oblong yang dipakainya adalah buatan Yogyakarta, melainkan juga mau mengumumkan sebuah pengalaman yang menurut pemakainya cukup penting (ia seperti mau mengatakan,”Mari saya beritahu pengalaman saya jalan-jalan di Yogya”).</p>
<p>Tetapi sekarang ini kaos oblong juga dipakai untuk mengkomunikasikan apa yang bukan bagian dari identitas seseorang. Misalnya, penulis pernah melihat seorang ibu muda yang sedang berjalan mengandeng anaknya. Si ibu ini memakai kaos dengan tulisan “<em>BITCH</em>” di bagian depannya. Apakah si ibu ini tidak mengerti bahasa Inggris atau penguasaan bahasa Inggrisnya pas-pasan, sampai ia tidak mengerti bahwa bitch (anjing betina) adalah umpatan yang sangat kasar yang biasa dipakai untuk menyebut wanita jalang? Apalagi waktu itu ia sedang menggandeng anaknya. Bukankah si anak ini menjadi cocok dengan umpatan lainnya, <em>son of a bitch </em>? Seandainya si ibu ini cukup mengerti bahasa Inggris, tentu yang mau dikomunikasikannya adalah “saya bukan bitch “. Ini semacam pendifinisian double negative, di mana seseorang mengklaim (secara ragu-ragu) keanggotaan pada kelompok tertentu yang tidak eksis. Si ibu tadi mengklaim keanggotannya pada kelompok “perempuan/ibu yang baik” tanpa menghadirkan kelompok yang diklaimnya ini. Hal yang sama juga terjadi pada kasus salah satu teman yang memakai kaos bergambar logo Golkar untuk menunjukkan pengejekannya pada Golkar atau untuk mengatakan bahwa ia bukan simpatisan Golkar.</p>
<p>Dengan semakin tumbuhnya industri periklanan, kaos merupakan bilboards mini yang cukup efektif untuk mengkomunikasikan sebuah produk, sebagaimana mengkomunikasikan diri atau identitas. Seringkali kaos dijadikan iklan berjalan yang oleh pengiklan kadang-kadang dibagikan secara gratis. Di Indonesia, adalah hal yang biasa banyak orang berebut mendapatkan pembagian kaos dari OPP pada saat Pemilu (tak jarang juga disertai pembagian “amplop”). Perusahaan-perusahaan sekarang ini juga membuat kaos dengan nama atau logo perusahaan yang tertera di atasnya (Coca Cola, Reebok, Nike, Wilson), dan menjualnya di toko-toko sebagai pakaian produksi massal yang siap pakai. Bagi sejumlah besar pemakainya, tentu memakai kaos oblong tidak dimaksudkan sebagai iklan, melainkan sebagai indikasi status dan pendapatan pemakainya, loyalitas atau kepercayaan pada satu produk. Ia juga merupakan suatu bagian dari identitas diri, “Saya adalah penggemar Coca Cola”, “Seperti Michael Jordan, saya memakai Nike (bagaimana dengan Anda?)”.</p>
<p>Kaos-kaos buatan perusahaan tertentu dianggap mewakili gaya hidup atau selera yang khas, selain sekaligus si pemakai mengiklankan perusahaan pembuatnya. Misalnya kaos bermerek Benetton, Ralph Lauren atau Calvin Klein. Simbol-simbol tertentu pada kaos, seperti buaya kecil atau kuda poni dan pemain polo kecil (dan berbagai variannya), juga sangat penting. Simbol-simbol ini bukan hanya menunjukkan status pemakainya yang mampu mengkonsumsi pakaian buatan desainer mahal, tetapi juga status dalam sistem fashion itu sendiri (ketika kelompok desainer Parisian juga memproduksi kaos, apakah kaos menjadi <em>high fashion</em> ?).</p>
<p>Sumber : <a href="http://kunci.or.id/articles/menjadi-modern-dengan-kaos-oleh-antariksa/">http://kunci.or.id/articles/menjadi-modern-dengan-kaos-oleh-antariksa/</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/serbakaos.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/serbakaos.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/serbakaos.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/serbakaos.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/serbakaos.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/serbakaos.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/serbakaos.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/serbakaos.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/serbakaos.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/serbakaos.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/serbakaos.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/serbakaos.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/serbakaos.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/serbakaos.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serbakaos.wordpress.com&amp;blog=13150495&amp;post=1&amp;subd=serbakaos&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://serbakaos.wordpress.com/2010/04/15/ada-apa-dengan-kaos/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2a9e5ab3418086d279f62ced1fd4d5b2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">serbakaos</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
